Edisi I /1/9/2003
Tafsir Surat Al–Ahqof
Edisi I /1/9/2003
Tafsir Surat Al–Ahqof
1. Haa – miim.
2. Penurunan Al-Kitab dari اللهI yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
3. Tidaklah Kami menciptakan langit-langit dan bumi serta yang ada di antara keduanya melainkan dengan haqq dan sampai ajal yang telah ditentukan. Dan orang-orang kafir berpaling terhadap sesuatu yang diperingatkan kepada mereka.
4. Katakanlah :¡É Apa pendapat kalian mengenai barang-barang yang kalian sembah selain الله ? Perlihatkan kepadaku adakah mereka telah menciptakan (bagian) dari bumi, ataukah mereka mempunyai andil dalam (penciptaan) langit-langit ? Datangkanlah kepadaku kitab sebelum (Al Qur¡Çan) ini, atau ilmu yang tersisa jika kalian adalah orang-orang yang benar.¡É
5. Dan siapakah yang lebih dholim dibanding orang yang menyembah selain الله (barang yang disembah itu) tidak dapat mengabulkan permohonannya sampai hari kiamat, dan barang-barang (yang disembah) itu lalai terhadap permohonan-permohonan mereka.
Surat Al – Ahqof, termasuk surat makiyyah (yaitu surat yang diturunkan ketika Rosululloh r masih berada di Makkah, hingga kemudian hijrah ke Madinah). Sebagaimana surat-surat makiyyah yang lain, surat ini membicarakan seputar pokok-pokok aqidah, yaitu tauhid, risalah, hari kebangkitan dan pembalasan. Inti pembicaraan surat ini lebih terfokus pada masalah ¡Ærisalah dan kerosulan¡Ç yang mempertegas kembali kebenaran Muhammad r dan Al-Qur¡Çan (Shofwah At – tafsir III/191).
Surat ini dinamakan ¡ÈAl – Ahqof¡É yang berarti bukit pasir, yang terletak di negeri Yaman. Di tempat inilah kaum ¡ÆAd tinggal, sebelum dibinasakan oleh اللهI , karena kesombongan dan keangkuhan mereka (ayat ke-21). Berkata Ibnu Katsir : Al Ahqof merupakan bentuk jama¡Ç dari hiqf, yang berarti gunung pasir. Berkata Qotadah : Mereka (kaum ¡ÆAd) tinggal di Yaman, di tempat berpasir yang terletak di tepi laut (mukhtashor Ibnu Katsir III/322).
Haa- miim, huruf – huruf yang terpotong ini (hanya اللهI saja yang mengetahui maksudnya), menjelasknan i¡Çjazul qur¡Çan, yaitu mu¡Çjizat Al – Qur¡Çan, dimana manusia merasa lemah untuk mendatangkan ide yang semisal itu. Berkata imam Ibnu Katsir : Sesungguhnya disebutnya huruf-huruf ini pada awal beberapa surat, untuk menjelaskan i¡Çjazul qur¡Çan. Manusia merasa lemah untuk menandinginya, meskipun tersusun dari huruf-huruf yang mereka (orang-orang Arab) berbicara dengannya. Pendapat ini juga dikemukakan oleh sejumlah muhaqiqin, juga dikuatkan oleh Az-zamakhsyari dalam tafsir beliau Al-Kasyaaf. Imam Ibnu Taimiyah juga sejalan dengan pendapat ini (mukhtasor Ibnu Katsir I/27).
Penurunan Al Kitab dari اللهI yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Artinya, kitab Al-Qur¡Çan ini diturunkan oleh اللهI , yang maha perkasa dalam kekuasaannya, siap mengadzab hamba-hambaNya yang ingkar, disamping itu maha bijaksana dalam perbuatanNya. Berkata imam Ibnu Katsir : اللهI memberitahu bahwa Dia telah menurunkan kitab kepada hambaNya dan rosulNya – sholawat serta salam tercurah kepada beliau hingga hari kiamat. Dan Dia mensifati diriNya dengan izzah (keperkasaan) yang tak ada tandingannya dan hikmah (kebijaksanaan) dalam perkataan dan perbuatanNya (mukhtashor Ibnu Katsir III/315).
Tidaklah Kami menciptakan langit-langit dan bumi serta yang ada di antara keduanya melainkan dengan haqq. Artinya, tidaklah Kami menciptakan langit-langit dan bumi serta yang ada di antara keduanya sia-sia. Kami menciptakan itu semua dengan penuh hikmah, untuk menunjukkan keesaan dan sempurnanya kekuasaan Kami.
Dan sampai ajal yang ditentukan, yaitu hari kehancuran langit-langit dan bumi, itu adalah hari kiamat. اللهI berfirman : Pada hari diganti bumi dan langit-langit dengan yang selainnya, dan mereka menuju اللهyang Esa, lagi Maha Perkasa (14 : 48).
Dan orang-orang kafir berpaling terhadap sesuatu yang diperingatkan kepada mereka, maksudnya mereka berpaling dari peringatan berupa adzab dan perkara-perkara akhirat. Mereka tidak pernah memikirkan dan bersiap sedia untuk menghadapinya.
Setelah اللهI menjelaskan keberadaan ilah (sesembahan) yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, Dia menolak terhadap penyembahan berhala, اللهI berfirman katakanlah : Apa pendapat kalian mengenai barang-barang yang kalian sembah selain اللهI ? Artinya, katakanlah wahai Muhammad r kepada orang-orang musyrik : Beritahukanlah kepadaku mengenai berhala-berhala yang kalian sembah selain اللهI itu dan kalian menyangka bahwa mereka adalah sesembahan. perlihatkan kepadaku, adakah mereka telah menciptakan (bagian dari bumi) ? Adakah berhala-berhala itu menciptakan partikel-partikel, unsur, atau sesuatu bagian – yang paling kecil sekali pun yang ada di bumi ini ? Adakah mereka berperan dalam menumbuhkan, mengembangbiakkan, dan menebarkan tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia ? Ataukah mereka mempunyai andil dalam (penciptaan) langit-langit ? tentu saja berhala-berhala tidak mempunyai andil apapun dalam penciptaan, karena mereka adalah makhluk.
Datangkanlah kitab sebelum (Al-Qur¡Çan) ini, yang telah diturunkan oleh اللهI yang menyuruh kalian untuk menyembah berhala-berhala itu. Kalian akan mendapati tidak ada satu potong ayatpun yang menyuruh kalian untuk berbuat syirik, bahkan semua kitab-kitab yang telah diturunkan menyuruh kalian untuk tauhid.
Atau ilmu yang tersisa dari ilmu orang-orang terdahulu yang mempersaksikan hal itu. Jika kalian adalah orang-orang yang benar dalam persangkaan kalian bahwa اللهI mempunyai sekutu-sekutu. Disebutkan dalam kitab Al-Bahrul Munith : mereka dituntut untuk mendatangkan suatu kitab atau ilmu yang tersisa yang membenarkan penyembahan kepada selain اللهI . Maksud ayat ini adalah untuk mencela mereka, karena semua kitab-kitab yang diturunkan اللهI menyuruh untuk tauhid dan melarang syirik, sehinga mereka tidak mempunyai sandaran baik dari segi naqli atau aqli (Al-Bahrul Munith VIII/55).
Dan siapakah yang lebih dholim dibanding orang yang menyembah selain الله . (Barang yang disembah itu) tidak dapat mengabulkan permohonannya sampai hari kiamat, tentu saja tidak ada seorang pun yang lebih dholim dan lebih bodoh dibanding orang yang menyembah berhala-berhala, yang tidak mungkin mendengar permohonan-permohonan orang yang memohon. Tidak mengetahui hajat orang yang meminta kepadanya selama-lamanya, karena berhala adalah benda mati yang tidak mendengar dan berakal.
Dan barang-barang (yang disembah) itu lalai terhadap permohonan-permohonan mereka, Artinya: tidak mendengar dan memahami permohonan. Dan di dalam ayat ini terkandung ¡Æpenghinaan¡Ç terhadap berhala-berhala dengan kata ganti (هم) yang sering dipakai untuk makhluk berakal, mengisyaratkan persangkaan orang-orang kafir yang meyakini berhala-berhala tersebut dapat mendatangkan manfaat dan mudhorot.
PELAJARAN
Dari uraian diatas dapat diambil beberapa pelajaran :
a) Di dalam Al-Qur¡Çan terdapat ayat-ayat yang hanya اللهI saja yang mengerti akan maksudnya. Semisal huruf-huruf yang terpotong di awal-awal surat.
b) Al-Qur¡Çan adalah kitab yang diturunkan oleh اللهI , bukan buat-buatan manusia
c) Semua maujud yang diciptakan oleh اللهI , bumi, langit dan semua yang ada, menunjukkan kekuasaan dan keesaan اللهI Sebagaimana اللهI berkuasa untuk mewujudkan itu semua, demikian pula saat اللهI akan melenyapkan itu semua di hari kiamat nanti.
d) Meskipun secara logika dan akal sehat berhala-berhala itu tidak mempunyai kekuasaan apapun, orang-orang musyrik tetap mengagungkannya dan menyembahnya.